This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Jumat, 08 Februari 2013
Istilah Tentang Lingkungan Hidup menurut UU no.23 tahun 1997
Istilah tentang lingkungan hidup menurut UU RI Nomor
23 tahun 1997
UU RI Nomor 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup telah disahkan pada tanggal 19 septemeber 1997 dan
merupakan revisi UU RINomor 4 tahun 1982. Terdapat beberapa istilah dalam UU
ini antara lain :
ü Lingkungan
hidup
Adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk
manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain.
ü Pengelolaan
Lingkungan hidup
Merupakan
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi
kebijaksanaan penataan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan
pengendalian lingkungan hidup.
ü Pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup
Merupakan
upaya sadar dan terencana yang memadu lingkungan hidup, termasuk sumber daya,
ke dalam pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.
ü Ekosistem
Adalah
tatanan unsur lingkungan hidup dan merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan
saling mempengaruhi membentuk suatu keseimbangan, stabilitas, dan produktifitas
lingkungan hidup.
ü Pelestarian
lingkungan hidup
Adalah
rangkaian upaya upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup.
ü Daya
lingkungan hidup
Kemampuan
lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup.
ü Pelestarian
daya dukung lingkungan hidup
Merupakan
rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap terhadap
tekanan perubahan dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan
agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup lain.
ü Daya
tampung lingkungan hidup
Kemampuan
lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan atau komponen lain yang
dibuang kedalamnya.
ü Pelestarian
daya tampung lingkungan hidup
Rangkaian
upaya untuk melindungi daya tampung lingkungan hidup.
ü Sumber
daya
Adalah
unsur lingkungan hidup yang teriri dari sumber daya alam baik hayati maupun non
hayati, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
ü Baku
mutu lingkungan hidup
Ukuran
batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada dan atau
unsur pencemar yang keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur
lingkungan hidup.
ü Pencemaran
lingkungan hidup
Merupakan
masuknya atau dimasukannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke
dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai
ketingkat tertentu yang ,menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi
sesuai dengan peruntukannya.
ü Kriteria
baku kerusakan lingkungan hidup
Merupakan
ukuran batas perubahan sifat fisik dan atau hayati yang dapat diterima.
ü Perusakan
lingkungan hidup
Merupakan
tindakan yang menimbulkan perubahan langsung dan atau tidak langsung terhadap
sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak dapat
berfungsi lagi untuk menunjang pembangunan berkelanjutan.
ü Konservasi
sumber daya alam
Adalah
pengelolaan sumber daya alam tak terbarui untuk menjamin pemanfaatannya secara
bijaksana dan sumberdaya alam terbarui untuk menjamin kesinambungan
ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya.
ü Limbah
Sisa
suatu usaha atau kegiatan
ü Bahan
berbahaya dan beracun
Merupakan
bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
ü Limbah
bahan berbahaya dan beracun
Sisa
suatu kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat
atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta mahluk hidup lain.
ü Sengketa
lingkungan hidup
Merupakan
sengketa yang ditimbulkan karena adanya atau diduga adanya pencemaran dan atau
perusakan lingkungan hidup.
ü Dampak
lingkungan hidup
Pengaruh
perubahan terhadap lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha atau
kegiatan.
ü Organisasi
lingkungan hidup
Organisasi
yang tujuan kegiatannya di bidang lingkungan hidup
ü Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan hidup
Kajian
mengenai dampak besar dan dan penting suatu dan atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hoidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan suatu usaha atau kegiatan.
ü Audit
lingkungan hidup
Proses
evaluasi terhadap pertanggungjawaban terhadap ketaatan dalam menjaga lingkungan
hidup
Rabu, 17 Oktober 2012
Dampak suatu Produk Terhadap Lingkungan
Isu lingkungan kini menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumen dalam
memilih produk, termasuk pangan. Oleh seba itu, sagatlah penting bagi industri
pangan untuk mendesain proses dan produknya menjadi lebih ramah lingkungan.
Salah satu metode untuk melakukan evaluasi adalah dengan LCA ( Life Cycle
Assesment). LCA merupakan teknik untuk mengetehaui dampak suatu produk dalam
siklusnya terhadap lingkungan. Oleh sebab itu LCA patut menjadi acuan dalam
pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama kaitannya dengan lingkungan.
Terdapat empat tahapan dalam LCA, yaitu :
1. Penentuan
tujuan dan cakupan LCA
2. Inventory
anaylis
3. Impact
assesment
4. Interpretasi
Selasa, 17 Juli 2012
Vinegar air Kelapa
Dalam pembuataan vinegar, dilakukan dengan proses fermentasi yang berlangsung dalam keadaan aerob maupun anaerob. Mikroba yang berperan dalam proses pembuatan cuka adalah khamir dan bakteri. Khamir yang berperan adalah Saccharomyces cerevisiae Sedangkan bakteri yang berperan adalah dari genus Acetobacter (familia Pseudomonadaceae) dari genus Bacterium. Fermentasi yang terjadi pada pembuatan asam cuka biasa dilakukan oleh bakteri asam cuka (Acetobacter) dengan substrat etanol. Dari proses fermentasi asam cuka, energi yang dihasilkan lima kali lebih besar daripada energi yang dihasilkan oleh fermentasi alkohol.
Secara umum reaksi kimia yang terfasilitasi oleh bakteri ini adalah:
C2H5OH + O2 —> CH3COOH + H2O
Terdapat dua macam genus yang bakteri yang terkait dengan pembuatan asam cuka, yaitu bakteri dari genus Acetobacter dan bakteri dari genus Clostridium. Bakteri dari genus Acetobacter yang berperan dalam proses fermentasi aerob yaitu bakteri Acetobacter aceti. Acetobacter mempunyai enzim intraselular yang berhubungan dengan sistem bioksidasi yang mempergunakan sitokhrom sebagai katalisatornya. Sebagian besar bakteri dari Genus Acetobacter dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan asam cuka, kecuali bakteri dari jenis Acetobacter xylinum. sedangkan yang berperan dalam fermentasi anaerob yaitu bakteri dari genus Clostridium yaitu bekteri Clostridium thermocetium.
Secara umum reaksi kimia yang terfasilitasi oleh bakteri ini adalah:
C2H5OH + O2 —> CH3COOH + H2O
Terdapat dua macam genus yang bakteri yang terkait dengan pembuatan asam cuka, yaitu bakteri dari genus Acetobacter dan bakteri dari genus Clostridium. Bakteri dari genus Acetobacter yang berperan dalam proses fermentasi aerob yaitu bakteri Acetobacter aceti. Acetobacter mempunyai enzim intraselular yang berhubungan dengan sistem bioksidasi yang mempergunakan sitokhrom sebagai katalisatornya. Sebagian besar bakteri dari Genus Acetobacter dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan asam cuka, kecuali bakteri dari jenis Acetobacter xylinum. sedangkan yang berperan dalam fermentasi anaerob yaitu bakteri dari genus Clostridium yaitu bekteri Clostridium thermocetium.
Selasa, 05 Juni 2012

Banyak hama yang terdapat digudang yang dapat menuunkan kualitas suatu bahan yang disimpan digudang. Hama tersebut antara lain fungi, rodensia, actinomycetes, fungus, kutu, inseksida, dan hama lainnya. Hama gudang yang paling sering ditemui yaitu hama tikus. banyak kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh hama tikus, misalnya akibat dari kotoran tikus, maka secara otomatis mutu dari bahan yang terkena kotoran tersebut akan menurun. Selain itu kerusakan akibat dimakannya ssuatu komoditi juga menjadi masalah yang serius. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha untul mengatasi hama tikus. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hama tikus, misalnya dengan melalui pengendalian kimiawi. Cara ini dilakukan dengan menaruh senyawa kimia beracun pada makanan yang diajdikan sebagai umpan tikus. Adapun bahan kimia yang dapat dipakai antara lain adalah rodensida akut dan rodentisida kronis (anti koagulan). Efek yang diberikan dari rodensida akut yaitu langsung membunuh sasaran, sedangkan pada rodensida kronis, racun tidak langsung meracuni sasaran, tetapi akan membentuk koagulan pada tubuh sasaran terlebih dahulu. Pada pengendalian kimiawi ini, racun tidak boleh diletakkan secara terus menerus, tetapi diberikan secara berkala dan diletakkan hanya pada jalur penting, misalnya jalur masuknya tikus. adapun kelemahan dari cara ini yaitu :
1. Adanya keengganan makan umpan oleh tikus
2. Diperlukan waktu yang lama untuk tikus dapat memakan umpan
3. Bahaya bagi manusia dan hewan piaraan
4. Berhasil hanya jika dibarengi oleh sanitasi yang baik
Adapun sanitasi yang dapat dilakukan yaitu meliputi :
1. Pembersihan sisa makanan (stock)
2. Rotasi stock
3. Mengosongkan pada area yang menjadi tempat kerusakan
PENGERINGAN BAHAN DALAM INDUSTRI
Teknologi pemrosesan bahan pangan terus berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi ini didorong oleh kebutuhan pangan manusia yang terus meningkat yang diakibatkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia. Pada saat yang sama, luas lahan penghasil bahan pangan makin menyempit. Hal tersebut menyebabkan dibutuhkannya teknologi-teknologi pemrosesan pangan yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk makanan; salah satunya adalah teknologi pengeringan bahan makanan.
Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap cairan (Sumber: Treybal, 1980).
Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air (Sumber : Geankoplis, 1993). Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil.
Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material. Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan. Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air dari material ke udara pengering.
Dalam beberapa kasus, air dihilangkan secara mekanik dari material padat dengan cara di-press, sentrifugasi dan lain sebagainya. Cara ini lebih murah dibandingkan pengeringan dengan menggunakan panas. Kandungan air dari bahan yang sudah dikeringkan bervariasi bergantung dari produk yang ingin dihasilkan. Garam kering mengandung 0.5% air, batu bara mengandung 4% air dan produk makanan mengandung sekitar 5% air. Biasanya pengeringan merupakan proses akhir sebelum pengemasan dan membuat beberapa benda lebih mudah untuk ditangani.
Klasifikasi Pengeringan
Ditinjau dari pergerakan bahan padatnya, pengeringan dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengeringan batch dan pengeringan kontinyu. Pengeringan batch adalah pengeringan dimana bahan yang dikeringakan dimasukan ke dalam alat pengering dan didiamkan selama waktu yang ditentukan. Pengeringan kontinyu adalah pengeringan dimana bahan basah masuk secara sinambung dan bahan kering keluar secara sinambung dari alat pengering.
Berdasarkan kondisi fisik yang digunakan untuk memberikan panas pada sistem dan memindahkan uap air, proses pengeringan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (Sumber: Geankoplis, 1993)
1. Pengeringan kontak langsung
Menggunakan udara panas sebagai medium pengering pada tekanan atmosferik. Pada proses ini uap yang terbentuk terbawa oleh udara.
2. Pengeringan vakum
Menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan rendah.
3. Pengeringan beku
Pengeringan yang melibatkan proses sublimasi air dari suatu material beku.
Mekanisme Pengeringan
Ketika benda basah dikeringkan secara termal, ada dua proses yang berlangsung secara simultan, yaitu :
1. Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat di permukaan benda padat
Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat berlangsung secara konduksi, konveksi , radiasi, atau kombinasi dari ketiganya. Proses ini dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan, laju dan arah aliran udara, bentuk fisik padatan, luas permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini merupakan proses penting selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat dihilangkan. Penguapan yang terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh peristiwa difusi uap dari permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film tipis udara
2. Perpindahan massa air yang terdapat di dalam benda ke permukaan
Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan temperatur sehingga air mengalir dari bagian dalam benda padat menuju ke permukaan benda padat. Struktur benda padat tersebut akan menentukan mekanisme aliran internal air.
Beberapa mekanisme aliran internal air yang dapat berlangsung :
1. Diffusi
Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di bawah titik jenuh atmosferik dan padatan dengan cairan di dalam sistem bersifat mutually soluble.
Contoh: pengeringan tepung, kertas, kayu, tekstil dan sebagainya.
2. Capillary flow
Cairan bergerak mengikuti gaya gravitasi dan kapilaritas. Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di atas titik jenuh atmosferik.
Contoh: pada pengeringan tanah, pasir, dll.
Benda padat basah yang diletakkan dalam aliran gas kontinyu akan kehilangan kandungan air sampai suatu saat tekanan uap air di dalam padatan sama dengan tekanan parsial uap air dalam gas. Keadaan ini disebut equilibrium dan kandungan air yang berada dalam padatan disebut equilibrium moisture content. Pada kesetimbangan, penghilangan air tidak akan terjadi lagi kecuali apabila material diletakkan pada lingkungan (gas) dengan relative humidity yang lebih rendah (tekanan parsial uap air yang lebih rendah).
Batch Tray Dryer (Batch Drying)
Batch Tray Dryer
Metode batch merupakan metode tray drying yang paling sederhana. Tray dryer terdiri dari bilik pemanasan yang terbuat dari kayu atau logam-logam tertentu. Tray/kolom yang telah dimasukkan material yang ingin dikeringkan kemudian di letakkan secara bersusun dalam kolom. Setelah ruangan ditutup, maka udara panas dialirkan ke dalam ruang pemanas hingga semua bahan menjadi kering.
Udara panas yang masuk dari sebelah bawah ruang menyebabkan material yang ada kolom yang paling bawah menjadi yang paling pertama kering. Setelah tenggat waktu tertentu, tray akan dikeluarkan dan material yang telah kering diambil. Material lain yang ingin dikeringkan dimasukkan dan prosedur terjadi berulang-ulang.
Solar Dryer (Continuous Drying)
Solar Dryer
Solar drying merupakan metode pengeringan yang saat ini sering digunakan untuk mengeringkan bahan-bahan makanan hasil panen. Metode ini bersifat ekonomis pada skala pengeringan besar karena biaya operasinya lebih murah dibandingkan dengan pengeringan dengan mesin. Prinsip dari solar drying ini adalah pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Perbedaan dari pengeringan dengan sinar matahari biasa adalah solar drying dibantu dengan alat sederhana sedemikian rupa sehingga pengeringan yang dihasilkan lebih efektif.
Metode solar drying sering digunakan untuk mengeringkan padi. Namun karena pada prinsipnya pengeringan adalah untuk mengurangi jumlah air (kelembaban) bahan, maka metode ini juga bisa diaplikasikan untuk bahan makanan lain.
Cara kerja solar dryer adalah sebagai berikut:
Bahan yang ingin dikeringkan dimasukkan ke dalam bilik yang berada pada ketinggian tertentu dari permukaan tanah. Udara sekitar masuk melalui saluran yang dibuat lebih rendah daripada bilik pemanasan dan secara otomatis terpanaskan oleh sinar matahari secara konveksi pada saat udara tersebut mengalir menuju bilik pemanasan. Udara yang telah terpanaskan oleh sinar matahari kemudian masuk kedalam bilik pemanas dan memanaskan bahan makanan. Pengeringan bahan makanan jadi lebih efektif karena pemanasan yang terjadi berasal dari dua arah, yaitu dari sinar matahari secara langsung (radiasi) dan aliran udara panas dari bawah (konveksi). (Sumber: http:// www.appropedia.org/Solar_drying)
Spray Dryer (Continuous Drying)
Spray Dryer
Metode mengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan seperti susu, buah buahan, dll.
Bagian-bagian dari unit spray dryer:
• feed pump
• atomizer
• Pemanas uap (air heater)
• Pendispersi udara (air disperse)
• drying chamber
• recovery powder system
• pembersih udara keluaran
Cara kerja spray dryer adalah sebagai berikut:
Pertama-tama seluruh air dari bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan udara panas. Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi. (Sumber: http://www.niro.com/NIRO/CMSDoc.nsf /WebDoc/ndkk5hmc6zSprayDryersSprayDryers)
vvvvv
Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap cairan (Sumber: Treybal, 1980).
Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air (Sumber : Geankoplis, 1993). Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil.
Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material. Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan. Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air dari material ke udara pengering.
Dalam beberapa kasus, air dihilangkan secara mekanik dari material padat dengan cara di-press, sentrifugasi dan lain sebagainya. Cara ini lebih murah dibandingkan pengeringan dengan menggunakan panas. Kandungan air dari bahan yang sudah dikeringkan bervariasi bergantung dari produk yang ingin dihasilkan. Garam kering mengandung 0.5% air, batu bara mengandung 4% air dan produk makanan mengandung sekitar 5% air. Biasanya pengeringan merupakan proses akhir sebelum pengemasan dan membuat beberapa benda lebih mudah untuk ditangani.
Klasifikasi Pengeringan
Ditinjau dari pergerakan bahan padatnya, pengeringan dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengeringan batch dan pengeringan kontinyu. Pengeringan batch adalah pengeringan dimana bahan yang dikeringakan dimasukan ke dalam alat pengering dan didiamkan selama waktu yang ditentukan. Pengeringan kontinyu adalah pengeringan dimana bahan basah masuk secara sinambung dan bahan kering keluar secara sinambung dari alat pengering.
Berdasarkan kondisi fisik yang digunakan untuk memberikan panas pada sistem dan memindahkan uap air, proses pengeringan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (Sumber: Geankoplis, 1993)
1. Pengeringan kontak langsung
Menggunakan udara panas sebagai medium pengering pada tekanan atmosferik. Pada proses ini uap yang terbentuk terbawa oleh udara.
2. Pengeringan vakum
Menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan rendah.
3. Pengeringan beku
Pengeringan yang melibatkan proses sublimasi air dari suatu material beku.
Mekanisme Pengeringan
Ketika benda basah dikeringkan secara termal, ada dua proses yang berlangsung secara simultan, yaitu :
1. Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat di permukaan benda padat
Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat berlangsung secara konduksi, konveksi , radiasi, atau kombinasi dari ketiganya. Proses ini dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan, laju dan arah aliran udara, bentuk fisik padatan, luas permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini merupakan proses penting selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat dihilangkan. Penguapan yang terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh peristiwa difusi uap dari permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film tipis udara
2. Perpindahan massa air yang terdapat di dalam benda ke permukaan
Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan temperatur sehingga air mengalir dari bagian dalam benda padat menuju ke permukaan benda padat. Struktur benda padat tersebut akan menentukan mekanisme aliran internal air.
Beberapa mekanisme aliran internal air yang dapat berlangsung :
1. Diffusi
Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di bawah titik jenuh atmosferik dan padatan dengan cairan di dalam sistem bersifat mutually soluble.
Contoh: pengeringan tepung, kertas, kayu, tekstil dan sebagainya.
2. Capillary flow
Cairan bergerak mengikuti gaya gravitasi dan kapilaritas. Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di atas titik jenuh atmosferik.
Contoh: pada pengeringan tanah, pasir, dll.
Benda padat basah yang diletakkan dalam aliran gas kontinyu akan kehilangan kandungan air sampai suatu saat tekanan uap air di dalam padatan sama dengan tekanan parsial uap air dalam gas. Keadaan ini disebut equilibrium dan kandungan air yang berada dalam padatan disebut equilibrium moisture content. Pada kesetimbangan, penghilangan air tidak akan terjadi lagi kecuali apabila material diletakkan pada lingkungan (gas) dengan relative humidity yang lebih rendah (tekanan parsial uap air yang lebih rendah).
Batch Tray Dryer (Batch Drying)
Batch Tray Dryer
Metode batch merupakan metode tray drying yang paling sederhana. Tray dryer terdiri dari bilik pemanasan yang terbuat dari kayu atau logam-logam tertentu. Tray/kolom yang telah dimasukkan material yang ingin dikeringkan kemudian di letakkan secara bersusun dalam kolom. Setelah ruangan ditutup, maka udara panas dialirkan ke dalam ruang pemanas hingga semua bahan menjadi kering.
Udara panas yang masuk dari sebelah bawah ruang menyebabkan material yang ada kolom yang paling bawah menjadi yang paling pertama kering. Setelah tenggat waktu tertentu, tray akan dikeluarkan dan material yang telah kering diambil. Material lain yang ingin dikeringkan dimasukkan dan prosedur terjadi berulang-ulang.
Solar Dryer (Continuous Drying)
Solar Dryer
Solar drying merupakan metode pengeringan yang saat ini sering digunakan untuk mengeringkan bahan-bahan makanan hasil panen. Metode ini bersifat ekonomis pada skala pengeringan besar karena biaya operasinya lebih murah dibandingkan dengan pengeringan dengan mesin. Prinsip dari solar drying ini adalah pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Perbedaan dari pengeringan dengan sinar matahari biasa adalah solar drying dibantu dengan alat sederhana sedemikian rupa sehingga pengeringan yang dihasilkan lebih efektif.
Metode solar drying sering digunakan untuk mengeringkan padi. Namun karena pada prinsipnya pengeringan adalah untuk mengurangi jumlah air (kelembaban) bahan, maka metode ini juga bisa diaplikasikan untuk bahan makanan lain.
Cara kerja solar dryer adalah sebagai berikut:
Bahan yang ingin dikeringkan dimasukkan ke dalam bilik yang berada pada ketinggian tertentu dari permukaan tanah. Udara sekitar masuk melalui saluran yang dibuat lebih rendah daripada bilik pemanasan dan secara otomatis terpanaskan oleh sinar matahari secara konveksi pada saat udara tersebut mengalir menuju bilik pemanasan. Udara yang telah terpanaskan oleh sinar matahari kemudian masuk kedalam bilik pemanas dan memanaskan bahan makanan. Pengeringan bahan makanan jadi lebih efektif karena pemanasan yang terjadi berasal dari dua arah, yaitu dari sinar matahari secara langsung (radiasi) dan aliran udara panas dari bawah (konveksi). (Sumber: http:// www.appropedia.org/Solar_drying)
Spray Dryer (Continuous Drying)
Spray Dryer
Metode mengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan seperti susu, buah buahan, dll.
Bagian-bagian dari unit spray dryer:
• feed pump
• atomizer
• Pemanas uap (air heater)
• Pendispersi udara (air disperse)
• drying chamber
• recovery powder system
• pembersih udara keluaran
Cara kerja spray dryer adalah sebagai berikut:
Pertama-tama seluruh air dari bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan udara panas. Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi. (Sumber: http://www.niro.com/NIRO/CMSDoc.nsf /WebDoc/ndkk5hmc6zSprayDryersSprayDryers)
vvvvv
Senin, 04 Juni 2012
LIMBAH B3

Limbah B3 merupakan limbah yang sangat berbahaya. Pencemaran yang diakibatkan oleh limbah B3, cara penanggulangannya pun berbeda dengan pencemaran pada air dan udara. Menurut PP 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3, pengertian limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan / atau beracun yang karena sifat dan / atau konsentrasinya dan / atau jumlahnya, baik secara langsung dapat mencemarkan dan / atau merusak lingkungan hidup, dan / atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, keangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.Banyak limbah yang tergolong limbah B3, oleh karena diperlukan suatu identifikasi yang dapat digunakan untuk membedakan antara limbah B3 maupun limbah yang lain. Yang tergolong limbah bukan B3 yaitu limbah yang dapat mentaati pengendalian pencemaran air dan udara. Misalnya pada limbah yang logam berat, tetapi dapat diatasi dengan water treatment dan dapat memenuhi standar efluent limabah, maka limbah tersebut tidak dapat diklasifikasikan kedalam limbah B3. Secara umum identifikasi limbah B3 berfungsi untuk :
1. mengklasifikasikan atau menggolongkan apakah limbah tersebut merupakan limbah B3 atau bukan.
2. menentukan sifat limbah tersebut agar dapat ditentukan metode penanganan, penyimpanan, pengolahan, pemanfaatan atau penimbunan.
3. menilai atau menganalisis potensi dampak yang ditimbulkan tehadap lingkngan, atau kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya
Limbah B3 dapat juga diidentifikasi berdasarkan uji karakteristik limbah. Secara umum karakteristik limbah B3 yaitu mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, bersifat korosif, dan dapat menyebabkan infeksi.
MINYAK ATSIRI
Minyak atsiri atau minyak terbang (volatile oil) ataupun juga sering disebut sebagai minyak esteris (minyak esensial) merupakan salah satu sisa metabolisme yang disintesa dalam sel kelenjar (glandular cell) jaringan tanaman. Minyak atsiri dapat dihasilkan dari tanaman yaitu dari bagian seperti daun, buah atau kulit buah, akar atau rhizome, batang atau kulit batang, dan bunga.
Menurut (Guenther, 1987), minyak atsiri memiliki sifat fisik seperti berbau wangi sesuai aroma tanaman penghasilnya, mempunyai rasa getir (pungent taste), mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, larut dalam pelarut organik seperti (alkohol, eter, petroleum, serat benzena), dan tidak larut dalam air.
Sedangkan sifat kimia minyak atsiri yaitu tergantung pada berbgai hal seperti tanaman penghasil, kondisi iklim, tempat tumbuh, metode ekstraksi, umur panen, dan cara penyimpanan minyak. Secara umu komponen kimia minyak atsiri terdiri dari :
• Golongan hidrokarbon (monoterpen, sesquiterpen, diterpen, politerpen, parafin, olefin, serta hidrokarbon aromatik)
• Oxygenated hydrokarbon, yang terdiri dari persenyawaan alkohol (geraniol, nerol, eugenol, vanillin), aldehida (sitral, sitroneal, sinnamaldehida), keton, ester, dan ether.
Minyak atsiri di Indonesia sangat potensial dikembangkan. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki lebih dari 160 jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Sedangkan dalam dunia perdagangan terdapat 80 jenis minyak atsiri dan Indonesia memiliki 40 jenis, tetap baru 12 yang masuk perdagangkan Internasional. Contoh minyak atsiri yang dihasilkan di Indonesia adalah nilam, sereh wangi, kenanga, pala, jahe, lada, akar wangi, serata cengkeh.
Komoditas minyak atsiri sangat dibutuhkan dalam berbagai industri seperti industri parfum, kosmetika, obat-obatan, serta industri makanan dan minuman. Contoh jenis minyak atsiri dan tanaman penghasilnya yang sudah berkembang di Indonesia :
Nama minyak Nama dagang Nama tanaman Kegunaan/fungsi
Nilam Patchouli Oil Pogestemon cablin Parfum, sabun
Serai wangi Citronella Oil Andropgon nardus Parfum, sabun
Akar wangi Vetiver Oil Vetiveria zizanoides Parfum, sabun
Kenanga Cananga Oil Canangium odoratum Parfum, sabun
Cendana Sandalwood Oil Santalum album Parfum, sabun
Kayu putih Cajuput Oil Melaleuca leucadendron Farmasi
Daun cengkeh Clove leaf Oil Syzigium aroamticum Rokok, parfum, farmasi, makanan
Gagang cengkeh Clove Stem Oil Syzigium aroamticum Idem
Bunga cengkeh Clove bud Oil Syzigium aroamticum Idem
Pala Nutmeg Oil Myristica fragrans Makanan, rokok
Lada Black papper oil Piper nigrum Makanan, minuman
Jahe Ginger Oil Zingiber officinale Makanan, minuman
Prouksi minyak atsiri dapat dilakukan dengan penyulingan. Tujuan dari penyulingan yaitu untuk menghasilkan minyak atsiri dari tanaman aromatik yang mempunyai kandungan minyak atsiri tetapi sulit untuk diekstrak pada kondisi lingkungan normal. Minyak atsiri susah untuk didapatkan karena minyak ini terdapat dalam kantung minyak yang terdapat dalam jaringan tumbuhan. Hasil penyulingan minyak atsiri sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut yaitu antara lain :
• Jenis dan penanganan bahan baku yang akan disuling
• Jenis, distribusi, dan uap yang akan digunakan
• Bahan penyusun katel penyulingan
• Dimensi alat penyulingan dan metode penyulingan yang digunakan
Penyulingan merupakan suatu proses pemisahan secara fisik suatu campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik didih berbeda dengan cara mendidihkan terlebih dahulu komponen yang mem[unyai titik didih rendah agar terpisah dari campuran. Metode dalam penyulingan ada tiga, yaitu :
• Penyulingan dengan air (water distilation)
• Penyulingan dengan uap dan air (steam and water distilation)
• Penyulingan dengan uap langsung (steam distilation)


Jumat, Februari 08, 2013
pujopijeh's